Kamis, 19 Januari 2012

PTFE / Teflon


BAB 1. PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Polimer merupakan ilmu pengetahuan yang berkembang secara aplikatif. Kertas, plastik, ban, serat-serat alamiah, merupakan produkproduk polimer. Polimer, merupakan ilmu yang sangat menarik untuk dipelajari. Polimer merupakan ilmu yang sangat dinamis. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan pengetahuan yang baik tentang konsep-konsep dasar polimer, guna dapat memahami dan mengembangkan ilmu polimer. Selanjutnya, konsep dasar tersebut dapat dikembangkan untuk mengukur dan menganalisis bobot molekul polimer. Teknik pemisahan dan pengukuran sampel polimer merupakan pengetahuan yang tidak kalah pentingnya untuk dikuasai. Teflon adalah nama dagang terdaftar dari bahan plastik yang sangat berguna yaitu Poly Tetra Fluoro Ethylene (PTFE).  PTFE adalah salah satu kelas dari plastik yang dikenal sebagai fluoropolymers. Suatu polimer adalah senyawa yang terbentuk oleh reaksi kimia yang menggabungkan partikel / molekul – molekul ke dalam kelompok-kelompok.
Polimer biasanya berbentuk serat sintetis seperti polyester dan nilon. PTFE memiliki banyak sifat-sifat unik, yang membuatnya berharga dalam sejumlah aplikasi. Teflon memiliki titik lebur yang sangat tinggi, dan juga stabil pada suhu sangat rendah. Teflon sangat tahan panas dan tahan korosi. Teflon merupakan bahan yang sangat baik untuk melapisi bagian-bagian mesin yang terkena panas, pakaian, dan gesekan, untuk peralatan laboratorium yang harus tahan korosif bahan kimia, dan sebagai lapisan untuk peralatan masak dan peralatan lainnya. PTFE digunakan untuk memberi perlindungan terhadap kain, karpet, dan penutup dinding, dan tahan cuaca di luar ruangan. PTIZE memiliki konduktivitas listrik yang rendah, sehingga membuat insulator listrik yang baik. Hal ini digunakan untuk melindungi komunikasi data pada kabel, dan sangat penting untuk pembuatan semi-konduktor. PTFE juga ditemukan dalam berbagai aplikasi medis, seperti dalam grafts vaskular. Sebuah fiberglass kain dengan lapisan PTFE berfungsi untuk melindungi atap bandara dan stadion. PTFE bahkan dapat dimasukkan ke dalam tenunan serat untuk kaus kaki. Gesekan rendah dari PTFE membuat kaus kaki sangat halus, dan melindungi kaki dari lecet.

1.2 Rumusan Masalah
- Apakah teflon itu ?
- Bagaimana sejarah teflon itu ?
- Bagaimana bentuk gugus teflon ?
- Bagaimana proses produksi panci teflon ?
- Bagaimana sifat fisik / kimia teflon ?
- Apakah ada dampak teflon bagi kesehatan dan lingkungan hidup ?

1.3  Tujuan
Dengan dibuatnya makalah ini diharap mahasiswa mampu memahami dan mengaplikasikan konsep hasil pembelajaran dengan benar, dan berguna bagi diri sendiri pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.


BAB 2. PEMBAHASAN


2.1 PENGERTIAN TEFLON
Teflon adalah nama merk dari sebuah compound polimer yang ditemukan oleh Roy J. Plunkett (19101994) di DuPont pada 1938 dan diperkenalkan sebagai produk komersial pada 1946. Teflon merupakan sebuah fluoropolimer thermoplastik. Teflon adalah nama dagang terdaftar dari bahan plastik yang sangat berguna yaitu Poly Tetra Fluoro Ethylene (PTFE).  PTFE adalah salah satu kelas dari plastik yang dikenal sebagai fluoropolymers.
Suatu polimer adalah senyawa yang terbentuk oleh reaksi kimia yang menggabungkan partikel / molekul – molekul ke dalam kelompok-kelompok. Polimer biasanya berbentuk serat sintetis seperti polyester dan nilon. PTFE memiliki banyak sifat-sifat unik, yang membuatnya berharga dalam sejumlah aplikasi. Teflon memiliki titik lebur yang sangat tinggi, dan juga stabil pada suhu sangat rendah. Teflon sangat tahan panas dan tahan korosi. Teflon merupakan bahan yang sangat baik untuk melapisi bagian-bagian mesin yang terkena panas, pakaian, dan gesekan, untuk peralatan laboratorium yang harus tahan korosif bahan kimia, dan sebagai lapisan untuk peralatan masak dan peralatan lainnya. PTFE digunakan untuk memberi perlindungan terhadap kain, karpet, dan penutup dinding, dan tahan cuaca di luar ruangan.


2.2 SEJARAH TEFLON
PTFE ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 1938 oleh seorang ilmuwan muda yang mencari sesuatu yang lain. Roy Plunkett adalah seorang ahli kimia untuk EI DuPont de Nemours and Company (Du Pont). Dia telah memperoleh gelar PhD dari Ohio State University pada tahun 1936, dan pada tahun 1938 ketika ia kebetulan menemukan teflon, padahal umurnya masih 27 tahun. Banyak bahan kimia yang digunakan sebagai pendingin sebelum tahun 1930-an sangat terancam dapat meledak (flammable). Du Pont dan General Motors telah mengembangkan jenis baru non-pendingin mudah terbakar, sebuah bentuk pendingin freon yang disebut pendingin 114, dan diikat dalam suatu perjanjian eksklusif dengan divisi General Motor's Frigidaire, dan pada saat itu tidak dapat dipasarkan ke produsen lain. Kemudian nama teknis untuk 114 adalah pendingin tetrafluorodichloroethane. Plunkett berharap untuk membuat pendingin yang serupa dengan asam klorida yang bereaksi dengan senyawa yang disebut tetrafluoroethylene, atau TFE.
TFE sendiri dikenal substansi, dan Plunkett memutuskan tugas pertamanya adalah membuat sejumlah besar gas ini. Para ahli kimia berpikir, sebaiknya ia membuat seratus pon gas, untuk memastikan agar mencukupi untuk semua tes kimia , dan untuk tes toksikologi juga. Dia menyimpan gas dalam kaleng logam dengan sebuah katup rilis, sangat mirip dengan kaleng yang digunakan secara komersial untuk semprotan bertekanan seperti hair spray. Plunkett dan asistennya  melepaskan TFE gas dari kaleng ke dalam sebuah ruangan dipanaskan. Pada pagi hari, tanggal 6 April, tahun 1938, Plunkett menemukan bahwa gas dari kaleng telah hilang. Plunkett dan asistennya menafsir bahwa gas dalam semalam telah berubah menjadi putih.
Polimerisasi adalah proses kimia di mana molekul-molekul bergabung menjadi tali panjang. Salah satu yang paling dikenal adalah polimer nilon, yang juga ditemukan oleh para peneliti di Du Pont. Ilmu polymer  itu masih pada tahap awal tahun 1930-an. Plunkett percaya bahwa TFE tidak bisa dipolimerisasi, namun entah bagaimana melakukannya. Dia mengirimkan serpihan putih yang aneh pada DuPont Central Research Department, di mana tim ahli kimia menganalisis barang. Serpihan putih tersebut tidak bereaksi dengan bahan kimia lain, dan serpihan tersebut menolak arus listrik, dan permukaannya sangat halus dan licin. Plunkett bisa mengetahui bagaimana gas TFE tidak sengaja terpolimerisasi, dan ia mengeluarkan sebuah paten untuk polimerisasi substansi, polytetrafluoroethylene, atau PTFE.
Ketika perang dunia II pecah, blok barat dan blok timur berlomba-lomba untuk mempersenjatai masing-masing dengan senjata yang lebih mutakhir. Tentu hal ini dilakukan secara diam-diam karena tidak ingin musuh mengetahui senjata pamungkas yang mereka kembangkan. Amerika sebagai ujung tombak blok barat mengembangkan bom nuklir yang mengambil ide dasar dari reaksi pembentukan inti helium dari penggabungan atom hidrogen di matahari atau yang lebih dikenal dengan reaksi fusi. Ada masalah yang ditimbulkan dari pengembangan ini yaitu bagaimana menyimpan uranium sebagai bahan utama yang berbahaya. Setelah mengetahui bahwa Dupont telah berhasil menemukan jenis polimer yang mempunyai karakteristik mampu menahan bahan-bahan kimia’kelas berat’ maka diujicobakanlah polimer baru tersebut yaitu teflon untuk menyimpan uranium. Dan saat terbukti berhasil, teflon yang saat semula ditemukan belum jelas diketahui guna dan manfaatnya, dengan penggunaan ini terjawablah sudah pertanyaan besar Dupont.
Penggunaan teflon untuk material pelapis dari wajan dadar sehingga bersifat anti lengket sendiri baru mulai dikembangkan pada era 60-an. Dan meskipun di awal pemasarannya belum begitu berkembang karena masyarakat belum tahu kelebihan dari alat ini. Namun 30 tahun kemudian distribusi pemasarannya begitu meluas. Jika awal tahun 90-an memiliki wajan teflon ibarat memiliki alat masak mutakhir yang tidak sembarang orang mampu, tapi pada era 2000-an memiliki wajan anti lengket sudah menjadi hal yang biasa. Begitulah teknologi ini dikembangkan dan berkembang. Bermula dari riset, penemuan, penggunaan, produksi dan pemasaran yang memakan waktu hampir 1 abad untuk menuju kejayaannya.


2.3 BENTUK GUGUS TEFLON
Bila struktur teflon ditentukan, maka molekul teflon ditemukan mengandung rantai karbon dengan mengikat atom-atom fluorin. Tetra fluoroetena (tetra fluoro etilena) merupakan molekul yang sangat non polar dan relatif kecil ukurannya serta cenderung berupa gas pada suhu kamar. Bagaimana caranya molekul tetrafluoroetilena dalam wujud gas dapat bereaksi dengan molekul lainnya membentuk molekul besar yang berantai panjang dan umumnya berupa padatan.
                                   
      Tetrafluoroetilena                                                                   Polimer Teflon

Sifat-sifat polimer berbeda dari monomer-monomer yang menyusunnya. Pada contoh diatas, teflon (politetra-fluoroetilena) yang berwujud padat dibuat bila molekul-molekul gas tetra-fluoroetilena bereaksi membentuk rantai panjang.


2.4 PROSES PRODUKSI PANCI TEFLON
Panci dapat dibuat dengan proses permesinan yang menggunakan metode spinning / putar tekan. Pada proses ini, lembaran tipis ditekan sambil diputar pada cetakan tertentu. Benda ditekankan pada cetakan yang berputar berbentuk simetris dan dibuat dari kayu keras dan untuk menghasilkan jumlah yang banyak digunakan cetakan dari baja licin. Bahan tebuk dapat berupa lingkaran datar atau benda hasil linyuk ( deep drawing ).
Mesin pencetak panci (spinning)

Pekerjaan putar tekan pada umumnya dilakukan pada permukaan luar meskipun dapat juga diputar tekan dari sisi dalam. Proses putar tekan memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan proses pres, antara lain:
   -peralatan lebih murah
   -produk baru dapat dihasilkan lebih dini dan produk dalam skala besar
Kerugian pengerjaan putar tekan ;
-upah tenaga terlatih yang lebih tinggi
-laju produksi lebih rendah

Logam nonferrous setebal 6 mm dan logam ferrous lunak hingga 5 mm dapat dibentuk dengan mudah. Toleransi sebesar ± 0,8 untuk diameter 460 mm dapat dijamin dengan mudah. Proses ini sering diterapkan untuk membuat alat-alat musik, alat-alat penerangan, reflector, corong, bejana besar untuk proses-proses dan alat-alat dapur.
Untuk membentuk pelat yang tebal diperlukan rol penekan bermotor, menggantikan penekan tangan biasa, operasinya disebut proses putar tekan geser.
Langkah-langkah operasi putar tekan geser bisa dilihat pada. Mula-mula pelat ditekankan pada madril oleh pemegang. Rol ditekankan pada pelat sehingga pelat terdesak mengikuti bentuk madril dan tebal untuk keseluruhan benda sama.
Langkah-langkah pembuatan bejana konis dengan proses putar-tekan geser dari benda tebuk berupa pelat .

Bahan Baku

PTFE dipolimerisasi dari senyawa kimia tetrafluoroethylene, atau TFE.

Sebuah panci antilengket terdiri dari berbagai lapisan non-stick.

TFE disintesis dari fluorspar, asam fluorida, dan kloroform. Bahan ini digabungkan di bawah panas tinggi, perlakuan yang dikenal sebagai pyrolosis. TFE tidak berwarna, tidak berbau, merupakan gas beracun, dan bagaimanapun, sangat mudah terbakar. TFE disimpan sebagai cairan pada temperatur rendah. Proses  polimerisasi menggunakan jumlah yang sangat kecil, dan bahan kimia lainnya sebagai pemrakarsa. Berbagai pemrakarsa dapat digunakan, termasuk amonium persulfate atau disuccinic peroksida asam. Unsur penting lainnya dari proses polimerisasi adalah air.
Berikut adalah gambar dari PTFE.

Hasil lain dari PTFE  yaitu stepcock.
PTFE dapat diproduksi dalam berbagai cara, tergantung pada sifat-sifat khusus yang dikehendaki untuk produk akhir. Ada dua metode utama memproduksi PTFE. Salah satunya adalah polimerisasi suspensi. Dalam metode ini, TFE dipolimerisasi dalam air, menghasilkan butiran PTFE. Butiran lebih lanjut kemudian dapat diolah menjadi pelet yang dapat dibentuk. Dalam metode dispersi, yang dihasilkan adalah PTFE pasta yang dapat diolah menjadi serbuk halus. Baik pasta dan bubuk, digunakan dalam lapisan aplikasi.
Produsen PTFE memulai dengan sintesis TFE. Ketiga bahan TFE yaitu fluorspar, asam fluorida, dan kloroform digabungkan dalam satu ruang reaksi kimia antara dipanaskan sampai 1094-1652 ° F (590-900° C). Gas yang dihasilkan kemudian didinginkan, dan disaring untuk menghilangkan kotoran.
Teflon con digunakan pada berbagai peralatan masak.

Polimerisasi Suspensi

  • Reaksi 2 ruang diisi dengan air murni dan reaksi reagen atau inisiator, bahan kimia yang akan memicu pembentukan polimer. TFE cair disalurkan ke dalam ruang reaksi  untuk memenuhi TFE inisiator dan mulai polimerisasi. Bentuk-bentuk yang dihasilkan padatan PTFE menjadi butir yang mengambang di permukaan air. Ketika ini terjadi, reaksi ruangan terjadi secara. Reaksi kimia di dalam ruang memanas, sehingga ruangan didinginkan oleh sirkulasi air dingin atau pendingin. Kontrol otomatis mematikan pasokan TFE setelah adanya perubahan bobot tertentu di dalam ruang. Air dikeluarkan dari ruangan, meninggalkan pecahan-pecahan berserabut PTFE yang terlihat seperti parutan kelapa.
  • Selanjutnya, PTFE dikeringkan dan dimasukkan ke dalam sebuah pabrik. Dalam pabrik diolah dengan pisau yang berputar, menghasilkan bahan dengan konsistensi tepung terigu / bubuk halus. Kemudian oleh pabrik bubuk halus (tepung) diubah menjadi butiran yang lebih besar dengan proses yang disebut aglomerasi. Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara. Salah satu metode adalah dengan mencampur bubuk PTFE dengan pelarut seperti aseton dan dimasukkan dalam drum yang berputar. Biji-biji PTFE tetap bersatu, membentuk pelet kecil. Kemudian pellet-pellet tersebut kemudian dikeringkan dalam oven.
  • Pellet dapat dibentuk menjadi bagian-bagian dengan menggunakan berbagai teknik. Namun, PTFE dapat juga dijual dalam jumlah besar yang sudah akan dibentuk menjadi billet (berupa silinder padat PTFE). Billet tinngginya dapat mencapai 5 ft (1,5 m). Billet dapat dipotong menjadi lembaran atau blok yang lebih kecil, untuk cetakan selanjutnya. Untuk membentuk billet, pellet PTFE dituangkan ke dalam cetakan silinder stainless steel.. Cetakan di-load ke hidrolik tekan, yang merupakan sesuatu seperti lemari besar yang dilengkapi dengan ram penimbang. Ram turun ke bawah ke dalam cetakan dan memberikan gaya pada PTFE. PTFE molded dipanaskan di oven selama beberapa jam, sampai secara bertahap mencapai suhu sekitar 680 ° F (360 ° C). Ini adalah di atas titik leleh PTFE. Partikel PTFE menyatu dan kemudian materi menjadi seperti gel. Kemudian secara bertahap PTFE didinginkan. Billet yang sudah selesai dapat dikirim kepada pelanggan, yang diproses lebih lanjut.
Salah satu yang paling umum dan terlihat penggunaan lapisan PTFE adalah untuk panci dan wajan antilengket. Panci atau wajan harus dibuat dari aluminium atau paduan aluminium. Permukaan wajan harus disiapkan secara khusus untuk menerima PTFE. Pertama, panci dicuci dengan deterjen dan dibilas dengan air, untuk menghilangkan semua minyak. Lalu panci dicelupkan ke dalam  air hangat asam klorida yang dalam prosesnya yang disebut etsa. Kemudian panci dibilas dengan air dan dicelupkan lagi dalam asam nitrat. Kemudian panic itu dicuci lagi dengan air dan menyeluruh kemudian deionized kering.
Sekarang panci siap untuk pelapisan dengan PTFE dispersi. Lapisan cairan dapat disemprotkan atau dikuaskan. Lapisan biasanya diterapkan dalam sampai beberapa lapisan, lapisan pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Setelah lapisan pertama disemprotkan / dikuaskan, panci dikeringkan selama beberapa menit, dan biasanya dimasukkan ke dalam oven konveksi. Kemudian lapisan berikutnya diterapkan, tanpa periode pengeringan di antara keduanya. Setelah semua lapisan diterapkan, panci dikeringkan dalam oven dan kemudian disinter. Sinter adalah pemanasan lambat yang juga digunakan untuk finishing billet. Jadi biasanya, oven memiliki dua zona. Pada zona pertama, panci dipanaskan perlahan-lahan ke suhu yang akan menguapkan air di dalam lapisan. Setelah air menguap, panci bergerak ke zona yang lebih panas, yang suhunya sekitar 800 ° F (425 ° C) selama sekitar lima menit. Kemudian terbentuk gel, gel ini yang dinamakan PTFE. Kemudian panci dibiarkan dingin. Setelah pendinginan, panci teflon siap untuk langkah-langkah perakitan akhir, dan pengemasan dan pengiriman.
Pengendalian kualitas harus dilakukan baik pada fasilitas manufaktur PTFE utama dan di pabrik pengolahan, untuk lebih lanjut langkah-langkah seperti pelapisan, pengendalian kualitas harus dilakukan. Dalam fasilitas manufaktur utama, industri harus mengikuti standar prosedur untuk menentukan kemurnian bahan, ketepatan temperatur, dan lain-lain hingga produk akhir diuji untuk kesesuaian dengan standar.
Untuk dispersi PTFE, viskositas dan bobot jenis dispersi diuji. Pemeriksaan lainnya dapat dilakukan juga. Karena teflon adalah produk bermerek dagang, produsen yang ingin menggunakan nama merek untuk bagian atau produk yang dibuat dengan teflon dan dengan demikian penggunaan PTFE harus mengikuti pedoman pengendalian mutu yang ditetapkan oleh DuPont. Dalam kasus manufaktur peralatan masak anti lengket, misalnya, para pembuat peralatan masak mematuhi DuPont Program Sertifikasi Mutu, yang mengharuskan memonitor ketebalan lapisan PTFE dan temperatur baking, dan melaksanakan tes adhesi beberapa kali dalam setiap perubahan.

2.5 SIFAT FISIK / KIMIA TEFLON
Teflon adalah bahan sintetik yang sangat kuat, umumnya berwama putih. Teflon mempunyai performa yang baik pada temperatur ekstrim, tahan pada temperatur  -240°C dan tahan terhadap panas sampai kira-kira 250°C. Di atas 250°C teflon mulai melunak, di dalam api akan meleleh dan sulit menjadi arang. Teflon juga anti radiasi Ultra Violet dan tahan segala cuaca, dan anti lengket.
Berat jenisnya kira-kira 2,2 g/cmI. Tahan terhadap banyak bahan kimia, termasuk ozone, chlorine, acetic acid, ammonia, sulfuric acid, dan hydrochloric acid. Satu –satunya bahan kimia yang bisa merusak lapisan teflon adalah lelehan logam alkali.
Teflon tidak tahan terhadap larutan alkali hidroksida. Juga kurang tahan terhadap hidrokarbon yang mengandung khlor. Teflon digunakan sebagai bahan penyekat, misalnya untuk kotak penyekat (stuffing box), cincin geser (sifat geseran dapat diperbaiki dengan bagian-bagian alat dari teflon menambahkan graft ke dalamnya). Digunakan juga untuk cincin 0 atau 0-ring, untuk gasket konsentrik dengan diberi bahan lunak (sebab teflon tidak begitu elastis), alat-alat yang kecil, pipa, slang selubung pipa.
Panci berlapis teflon.

2.6 DAMPAK TEFLON BAGI KESEHATAN & ENVIRONMENT
Hampir kebanyakan orang kini mengenal dan menggunakan segala macam alat dapur yang telah dilapisi “Teflon“. Lapisan Teflon yang tipis tersebut merupakan polimer yang mengandung atom fluor. Berkat ukuran atom fluor dan sifat elektroniknya maka polimer tersebut memiliki sifat fisik istimewa lebih dari sekedar polimer kebanyakan, misalnya daya tahan terhadap panas, sinar ultraviolet maupun cuaca, inert terhadap asam dan basa serta beberapa sifat optik maupun elektrik lainnya.Kita hidup dalam era polimer. Bahan-bahan polimer alam yang sejak dahulu telah dikenal dan dimanfaatkan, seperti kapas, wool, dan damar. Polimer sintesis dikenal mulai tahun 1925, dan setelah hipotesis makromolekul yang dikemukakan oleh Staudinger mendapat hadiah Nobel pada tahun 1955, teknologi polimer mulai berkembang pesat. Beberapa contoh polimer sintesis yang ada dalam kehidupan sehari-hari, antara lain serat-serat tekstil polyester dan nilon, plastik polietilena untuk botol susu, karet untuk ban mobil dan plastik poliuretana untuk jantung buatan.
Teflon memberikan suatu lapisan yang baik untuk wajan, karena teflon bersifat tidak reaktif dan makanan tidak akan lengket pada wajan. Teflon memiliki daya tahan kimia dan daya tahan panas yang tinggi. Keistimewaan teflon adalah sifatnya yang licin dan bahan lain tidak melekat .

Berdasarkan hasil uji commissioned by Environmental Working Group (EWG), Teflon, produk yang diiklankan membuat hidup lebih mudah, juga digunakan dalam bentuk yang berbeda untuk menjaga warna permadani dan pakaian. DuPont menyebutnya produk ini adalah teman terbaik ibu rumah tangga. Teflon dan bahan kimia yang digunakan dalam produksi telah berkembang menjadi US $ 2 miliar per tahun. Ini termasuk asam perfluorooctanoic (PFOA), yang dikenal sebagai C-8, yang telah dihubungkan dengan kanker, kerusakan organ dan efek kesehatan lainnya di tes di laboratorium pada hewan. Dalam dua sampai lima menit di stovetop konvensional riset, alat masak yg dilapisi dengan teflon pada suhu tinggi lapisan tersebut dapat menjadi retak dan mengeluarkan partikel dan gas-gas beracun yang mengakibatkan burung mati dan timbulnya beberapa penyakit yang tidak dikenal setiap tahunnya.
"Dalam tinjauannya, ini bisa jadi tampaknya seperti salah satu yang terbesar dari kesalahan industri kimia yang pernah dibuat," kata Jane Houlihan, Vice President untuk penelitian di lingkungan Working Group, sebuah organisasi aktivis. Mereka sudah sedemikian besar konsumen berbagai produk. Jadi jika anda membeli pakaian yang dilapisi dengan teflon atau yang lain yang melindungi dari kotoran dan noda, yang bahan kimia dapat menyerap langsung melalui kulit. " Menurut Badan Perlindungan Lingkungan, beberapa penemuan kandungan tertinggi C-8 bahwa kandungan tertinggi C-8 ditemukan pada pakaian anak–anak.

DuPont study menunjukkan bahwa Teflon melepaskan gas beracun pada panas sekitar 464 ° F. Pada panas 680 ° F teflon panas mengeluarkan sedikitnya enam gas beracun, termasuk dua carcinogens, dua global polusi, dan MFA kimia yang dosis rendah dapat mematikan manusia.
DuPont menyatakan bahwa mereka Teflon Coatings tidak memancarkan kimia berbahaya dalam penggunaan biasa atau normal. Signifikan dekomposisi dari coating akan terjadi jika melebihi suhu sekitar 660 derajat F (340 degrees C). Hal ini sendiri adalah suhu di atas normal memasak. DuPont mengakui bahwa uap juga bisa orang jatuh sakit, sebuah kondisi yang disebut demam “polymer fume”.
PFOA, atau amonium perfluorooctanoic acid, merupakan zat kimia utama dalam pembuatan teflon sebagai pelapis dalam alat memasak. PFOA tidak hanya digunakan dalam membuat pelapis alat memasak, tapi juga banyak digunakan dalam industri otomotif, elektronik dan persenjataan. Contohnya, PFOA digunakan untuk membuat kabel, power steering, rem mobil dan pelumas gear.
Saat ini teflon sedang mendapat perhatian lebih dari kalangan ilmuwan, dan mereka melakukan tes terhadap beberapa sampel: berang – berang sungai di di Oregon, beruang kutub di Kanada, dan dalam darah dari 96% anak anak yang diuji di 23 negara bagian.
DuPont sebagai pencipta teflon mengatakan bahwa lebih dari 50 tahun penggunaan teflon, tidak ada bukti bahwa teflon berbahaya bagi kesehatan makhuk hidup. “Bahan kimia ini tidak memberikan efek apapun terhadap binatang yang diberi makanan dengan dosis PFOA yang tinggi. Tapi binatang memberi respon yang berbeda dengan manusia, dan tidak ada bukti bahwa bahan kimia ini berbahaya bagi kesehatan manusia.”, David Boothe, manager DuPont.
Pada tahun 2004 Enviromental Protection Agency (EPA), telah melakukan riset terhadap data sains PFOA terhadap dampaknya pada kesehatan manusia. Pada tahun yang sama media banyak melaporkan bahwa DuPont, pembuat teflon, tidak memberikan informasi yang cukup mengenai kehadiran PFOA pada sumber air dan dampaknya pada ibu hamil, karena dapat menembus plasenta dan menuju janin.
Gas yang dihasilkan oleh panci yang dilapisi oleh teflon mempunyai campuran yang kompleks yang berbeda – beda kompisinya terhadap temperatur. Pada temperatur tertentu gas yang dihasilkan didominasi oleh satu atau beberapa bahan kimia, sementara bahan kimi lainnya hanya erdapat dalam jumlah yang sangat kecil. Akumulasi gas ini pada makanan belom diuji, tapi beberapa jenis gas yang dihasilkan dikenal sebagai gas yang bersifat  racun.
Meskipun PTFE sendiri adalah non-toksik, namun produk sampingan dalam pembuatannya menghasilkan racun. Yang termasuk dalam racun adalah fluorida asam dan karbon dioksida. Wilayah kerja dalam pabrik pembuatan teflon sendiri harus cukup ventilasi untuk mencegah polusi terhadap gas ketika PTFE sedang dipanaskan, atau ketika mendingin setelah di sinter. Dokter telah mendokumentasikan penyakit tertentu yang disebut asap demam polimer yang diderita oleh pekerja yang telah menghirup gas produk sampingan dari manufaktur PTFE. Pekerja pabrik harus juga dilindungi dari PTFE saat menghirup debu PTFE.
Beberapa limbah yang diciptakan selama proses manufaktur dapat digunakan kembali (reuse). Karena pada awalnya PTFE sangat mahal untuk diproduksi, produsen memiliki insentif yang tinggi untuk menemukan cara alternatif untuk menggunakan bahan memo. Limbah atau sampah yang dihasilkan dalam proses manufaktur dapat dibersihkan dan dibuat menjadi bubuk halus. Bubuk ini dapat digunakan untuk pencetakan, atau sebagai aditif pelumas tertentu, minyak, dan tinta.
Setelah digunakan, PTFE harus dikubur di tempat pembuangan sampah, bukan dibakar, karena apabila dibakar pada suhu tinggi akan merilis hidrogen klorida dan zat-zat beracun lainnya. Suatu  penelitian yang dirilis pada tahun 2001 menyatakan bahwa PTFE juga terdegradasi dalam lingkungan ke dalam satu substansi yang beracun untuk tanaman (Trifluoroacetate, atau TFA). Sementara tingkatnya sampai saat ini, kadar terurainya TFA di lingkungan rendah, zat bertahan untuk waktu yang lama. Jadi TFA memungkinan menyebabkan polusi dan menyebabkan kekhawatiran untuk masa depan.


Setelah melakukan uji dan pengambilan sampel, ilmuwan menemukan beberapa efek PFOA dalam kesehatan:
1. Dari pengujian terhadap binatang
Binatang yang digunakan antaranya kelinci, tikus dan monyet yang diberi dosis PFOA yang tinggi, mengalami perubahan bentuk jantung, pengurangan berat badan. Pemberian PFOA dengan media udara mengakibatkan binatang percobaan mengalami gangguan pernafasan, perubahan berat jantung, pengurangan berat baan, dan gangguan mata.  Hal ini dalam jangka waktu panjang mengakibatkan kanker liver, dan pankreas pada binatang uji.
2. Pengujian terhadap manusia
Pengujian dilakukan terhadap pekerja di USA dan Eropa yang banyak berhubungan dengan dosis PFOA yang tinggi. Pada 4000 sampel pengujian tidak ditemukan hubungan antara kadar PFOA yang tinggi dengan penyebab kanker. Namun, pada tahun 1981 ditemukan dua bukti dari pekerja yang berinteraksi dengan PFOA, melahirkan anak yang cacat lahir.
Merupakan hal yang sangat miris ketika sebuah perusahaan besar terus mengambil keuntungan tanpa memperhitungkan keselamatan konsumennya. Oleh karena itu kita harus berhati – hati terhadap penggunaan berbagai bahan yang mengandung bahan kimia yang belum kita kenali. Lebih baik kita kembali ke alam, hidup serasi dengan alam. Jangan terlalu percaya terhadap bahan – bahan kimia yang dikatakan oleh produsen mempunyai fungsi yang baik.


BAB 3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Teflon adalah nama merk dari sebuah compound polimer yang ditemukan oleh Roy J. Plunkett (19101994) di DuPont pada 1938 dan diperkenalkan sebagai produk komersial pada 1946. Teflon merupakan sebuah fluoropolimer thermoplastik. Teflon adalah nama dagang terdaftar dari bahan plastik yang sangat berguna yaitu Poly Tetra Fluoro Ethylene (PTFE).  PTFE adalah salah satu kelas dari plastik yang dikenal sebagai fluoropolymers.
Teflon memiliki titik lebur yang sangat tinggi, dan juga stabil pada suhu sangat rendah. Teflon sangat tahan panas dan tahan korosi. Teflon merupakan bahan yang sangat baik untuk melapisi bagian-bagian mesin yang terkena panas, pakaian, dan gesekan, untuk peralatan laboratorium yang harus tahan korosif bahan kimia, dan sebagai lapisan untuk peralatan masak dan peralatan lainnya. PTFE digunakan untuk memberi perlindungan terhadap kain, karpet, dan penutup dinding, dan tahan cuaca di luar ruangan. Teflon tidak tahan terhadap larutan alkali hidroksida. Juga kurang tahan terhadap hidrokarbon yang mengandung khlor.
PFOA, atau amonium perfluorooctanoic acid, merupakan zat kimia utama dalam pembuatan teflon sebagai pelapis dalam alat memasak. PFOA tidak hanya digunakan dalam membuat pelapis alat memasak, tapi juga banyak digunakan dalam industri otomotif, elektronik dan persenjataan. Contohnya, PFOA digunakan untuk membuat kabel, power steering, rem mobil dan pelumas gear.
Setelah digunakan, PTFE harus dikubur di tempat pembuangan sampah, bukan dibakar, karena apabila dibakar pada suhu tinggi akan merilis hidrogen klorida dan zat-zat beracun lainnya. Suatu  penelitian yang dirilis pada tahun 2001 menyatakan bahwa PTFE juga terdegradasi dalam lingkungan ke dalam satu substansi yang beracun untuk tanaman (Trifluoroacetate, atau TFA). Sementara tingkatnya sampai saat ini, kadar terurainya TFA di lingkungan rendah, zat bertahan untuk waktu yang lama. Jadi TFA memungkinan menyebabkan polusi dan menyebabkan kekhawatiran untuk masa depan.

3.2 SARAN
Makalah ini masih jauh dari unsur kesempurnaan, maka dari itu mohon kritik dan saran dari berbagai pihak. Kurangnya jumlah referensi dan lainnya menyebabkan kurang detailnya makalah tentang teflon. Dengan penuh harapan, “TEFLON” yang saat ini limbahnya masih mengkhawatirkan karena dampaknya terhadap lingkungan, dapat dikembangkan lebih baik lagi, apalagi saat-saat sekarang yang lagi nge-trend tentang “green production” yang limbahnya dapat terurai oleh lingkungan dan dapat digunakan kembali (reduce, reuse, recycling). Tak ada gading yang tak retak, semua pasti ada kesalahan. Semoga proses pembelajaran ini dapat menjadi acuan untuk menuju yang lebih baik lagi.








                                                                        

DAFTAR PUSTAKA

Darsin, Mahros. 2007. Proses Pembentukan Logam. Jurusan Teknik Mesin, Unej, Jember
Ebnesajjad, Sina. Fluoroplastics. Norwich, NY: Plastics Design Library, 2000.
Friedel, Robert, dan Alan Pilon. "The Accidental Inventor." Discover (October 1996): 58. "The Terkadang Penemu." Temukan (Oktober 1996): 58.
Gorman, J. "Stuck. Lingkungan Hidup dengan Lapisan antilengket." Science News (21 Juli 2001): 36.
www.wikipedia.org







 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar